وَمَنْ
يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا
وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ
وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى
اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
"Barang
siapa yang berhijrah dijalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka
bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa
keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat tujuan), maka
sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa' [4] : 100).
Hijrah
itu menantang maut. Hijrah juga menantang miskin dan sengsara. Hijrah
meniscayakan kesiapan untuk tidak mapan sesudah hidup mapan. Hijrah
meniscayakan adanya korban; diri dan keluarga.
Namun,
ayat diatas menepis semua ketakutan dan kekhawatiran tersebut. Jika
hijrah menantang maut, tidak usah takut, karena maut itu sudah pasti
mengantarnya pada pahala yang agung di sisi Allah awt. Terlebih
faktanya, manusia mana yang tidak akan mati. Bedanya hanya apakah
seseorang itu mati dalam keadaan dosa ataukah mati dalam keadaan
mendapatkan pahala. Dalam hal inilah Allah swt berfirman dalam ayat lain
yang semakna dan sama-sama ditujukan kepada mereka yang masih takut
untuk berhijrah:
يَا
عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ
فَاعْبُدُونِ - كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُون
"Hai
hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah
Aku saja. Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, kemudian
hanyalah kepada Kami kalian akan kembali." (Al-'Ankabut [29] : 56-57)
Ayat
al-'Ankabut ini sebagaiman dijelaskan oleh al-Hafidz Ibnu
Katsir,ditujukan kepada mereka yang masih banyak berfikir takut
sengsara, takut mati untuk melakukan hijrah. Allah swt menegaskan, semua
manusia juga akan mati. Jadi kenapa harus takut mati dalam kebenaran,
sementara dengan tidak hijrah akan mati juga dan matinya tidak dalam
kebenaran.
Jika yang ditakutkan adalah takut karena tidak mendapatkan tempat tinggal, bukankah bumi Allah itu luas? Itu juga yang dikatakan malaikat pencabut nyawa kepada mereka yang mati dalam keadaan tidak hijrah: "Bukanlah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" (QS. An-Nisa [4] : 97).
Jika ditakutkan hidup menjadi miskin dan sengsara, justru sebaliknya janji Allah swt: "Niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak."
Ayat-ayat ini mutlak untuk selalu direnungkan oleh mereka yang masih terjebak pada "sistem kafir" (baca: kafir ashghar/kecil). Mereka yang masih hidup dalam sistem yang korup dan sistem riba seraya tidak berdaya untuk mengubahnya. Kenapa masih takut untuk hijrah? Bukankah justru hijrah sumber anugerah?
Sumber: Majalah Risalah No. 8 Th. 52 / November 2014
Jika yang ditakutkan adalah takut karena tidak mendapatkan tempat tinggal, bukankah bumi Allah itu luas? Itu juga yang dikatakan malaikat pencabut nyawa kepada mereka yang mati dalam keadaan tidak hijrah: "Bukanlah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" (QS. An-Nisa [4] : 97).
Jika ditakutkan hidup menjadi miskin dan sengsara, justru sebaliknya janji Allah swt: "Niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak."
Ayat-ayat ini mutlak untuk selalu direnungkan oleh mereka yang masih terjebak pada "sistem kafir" (baca: kafir ashghar/kecil). Mereka yang masih hidup dalam sistem yang korup dan sistem riba seraya tidak berdaya untuk mengubahnya. Kenapa masih takut untuk hijrah? Bukankah justru hijrah sumber anugerah?
Sumber: Majalah Risalah No. 8 Th. 52 / November 2014
0 komentar:
Posting Komentar