Mengenal Islam Lebih Dekat

Sabtu, 09 April 2016

AKHLAK


Pekan lalu kita telah mmbahas ttg belajar akhlak kepada Ibrahim, yg mana Ibrahim mengajarkan kepada kita tentang semangat pengorbanan dan pengabdiannya kepada Allah SWT, berbaik sangka dg keputusan Allah sehingga berujung dg pujian dan sanjungan dari Allah, bahwa Ibrahim adalah orang yang membuktikan kepatuhannya kepada Rabbnya. Maka pelajaran yang akan kita petik dari Ismail juga hampir sama.
Dalam sejarah, ketika Allah memerintahkan Ibrahim mengantarkan anaknya yang masih bayi, Ismail dan istrinya,  Siti Hajar ke sebuah lembah yan g tidak ada tanda-tanda kehidupan. Itu berlangsung selama 7-8 tahun, dalam riwayat lain dikatakan sampai 13 tahun. Dalam QS Ash shaffat : 102 Allah menjelaskan bagaimana awal cerita Ibrahim dan anaknya, Ismail. Ketika Ibrahim kembali ke Mekkah, dalam riwayat dikatakan 7-8 tahun atau riwayat lain setelah 13 tahun, kemudian baru berlalu 2/3 hari bertemu dengan anak dan istrinya. Ibrahim bermimpi bahwa dia diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya. Kemudian Ibrahim menyampaikan kepada anaknya, “wahai anakku, sesungguhnya aku melihatmu dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu, bagaimana menurutmu tentang hal itu?”. Ismail menjawab, “wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah, mudah-mudahan engkau mendapatiku termasuk orang yang sabar.
Kita ketahui bahwa Ismail ditinggal dalam keadaan bayi, yang pastinya belum tau rupa ayahnya, kemudian bertemu setelah beberapa tahun kemudian, selang bertemu 2/3 hari diperintahkan untuk menyembelihnya. Maka yang perlu kita garis bawahi adalah bagaimana respon dari ismail. Dia tidak melawan, tidak membangkang, tidak mempertanyakan, namun memberikan jawaban yang menenangkan hati ayahnya. Sebagaimana kita tahu bahwa ini adalah mimpi, dan mimpi seorang nabi adalah wahyu, maka adalah wajar jika mimpi itu langsung dilaksankan.
Dari hal tersebut, Ismail mengajarkan kita akan 2 hal :
  1. Kesantunan dan kepatuhan anak kepada orang tuanya seperti apapun kita diperlakukan. Inilah yang sebenarnya disebut dengan “berbakti”.
  2. Husnudzhon/berbaik sangka kepada Allah dalam bentuk sabar dalam ujian yang diberikan, dan sabar bukan hanya dalam kondisi menerima musibah tapi juga sabar dalam ketaatan dan sabar dalam meninggalkan dosa dan kemaksiatan.
Ismail mengajarkan kepada kita 2 hal tersebut, dan kita lihat diakhir penjelasan ayat berikutnya, ismail tidak jadi disembelih tapi diganti oleh Allah dengan seekor binatang. Ini membuktikan bahwa ketika Allah menguji hambaNya ada takdir lain yang Allah inginkan untuk hambaNya itu.
Oleh : Ust Mulyadi Muslim, Lc.,MA

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : AKHLAK

1 komentar:

  1. Play Free Pragmatic Play Games for Real Money at Casinosites
    With Pragmatic casinosites Play games, 카지노 this is the perfect way to get new and interesting casino experience. Play some of the most popular casino games from around

    BalasHapus